Oleh: caritakuring | Januari 7, 2009

Catatan Perjalanan ke Dayeuh Luhur

Setiap aku membaca sejarah Sunda, setiap itu pula bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri, apalagi kalau membaca tentang saat-saat keruntuhan Pakuan Pajajaran. Ketika Pakuan sudah tidak bisa dipertahakan lagi, 4 orang Panglima bersaudara yang bertindak atas nama Raja Nilakedra berupaya menyelamatkan atribut kerajaan dengan membawanya ke Sumedang Larang. Atribut tersebut dipakai untuk menobatkan Pangeran Geusan Ulun. Mereka bercita-cita ingin membangun kembali Pakuan yang kedua di Sumedang Larang. Dahulu ke-4 panglima tersebut sangat dikenal di Sumedang, mereka adalah Sangiang Hawu alias Embah Jaya Perkasa, Batara Adipati Wiradijaya alias Embah Nangenan, Sangiang Kondang Hapa dan Batara Pancar Buana alias Embah Terong Perot. Mereka leluhurku yang menghabiskan masa akhirnya di Dayeuh Luhur.Salah seorang dari 4 panglima tersebut dimakamkan di puncak gunung Rengganis Dayeuh Luhur. Entah kenapa dalam beberapa tahun terakhir ini aku sangat ingin berziarah ke makam itu. Ketika pulang berlibur ke Indonesia diantar oleh adik-adikku, menyempatkan diri berziarah dengan isteri dan satu-satunya anakku yang masih kecil. Aku ingin sekali mengenalkan ia kepada leluhurnya. Anakku tidak mengenal kesundaannya karena lahir dan dibesarkan di Tokyo.

Aku pernah ke makam leluhur dengan pamanku kira-kira tahun 1974, waktu itu masih sekolah di sekolah dasar. Tak terasa perjalanan tersebut sudah 34 tahun yang lalu. Setelah sampai di pintu makam, nafasku terasa sesak, sesak bukan karena habis mendaki, tetapi sesak karena merasa sedih dan prihatin. Aku hanya dapat tertegun dengan membisu seribu bahasa. Mataku tertuju ke makam yang ditata dengan tumpukan batu, ‘Hanya inikah yang tersisa’ padahal beliau seorang negarawan, seorang panglima terakhir yang mempertahahnan Pakuan Pajajaran. Dan beliau pulalah yang menobatkan Pangeran Geusan Ulun sebagai Nalendra di Parahyangan penerus Pakuan Pajajaran yang sirna pada tanggal 11 bagian bulan Wesaka 1501 Saka, kira-kira 8 Mei 1579, negara yang telah berdiri lebih dari 15 abad. Dengan jaminan beliau dan tiga adiknya Geusan Ulun diakui oleh 44 raja-raja daerah di tanah Pasundan. Sumedang Larang nenjadi negara yang berdaulat sebagai penerus Pajajaran dengan luas wilayah bekas Pajajaran munus Banten dan Cirebon.

 

Aku berdiri di depan makam, pikiranku menerawang jauh ke masa lalu. Peristiwa demi peristiwa dari sejak keruntuhan Pakuan sampai dengan tanah kabuyutan Dayeuh Luhur dijadikan ibu kota dan benteng pertahanan Sumedang Larang rasanya baru saja terjadi, padahal perjalanan itu sudah lebih dari 400 tahun. Aku sendiri heran mengapa aku punya pikiran dan perasaan seperti itu.

 

Kejayaan Sunda di masa lalu ibarat mimpi indah yang begitu saja hilang tanpa ada yang peduli. Makam tokoh besar yang tersisa seperti makam Jaya Perkasa dan Geusan Ulun adalah situs sejarah yang seharusnya dijaga dengan baik. Makam-makam tersebut kurang terpelihara dan kelihatannya hanya diurus oleh 4 kuncen yang tidak mendapat jaminan sosial yang layak. Bahkan papan keterangan yang menuliskan kebesaran Geusan Ulun Raja Sumedang Larang yang berdaulat hanya terbuat dari papan yang lusuh dan disimpan di atas pintu masuk makam.Papan tersebut tidak lebih baik dari papan pengumuman yang ada di balai desa. Sungguh ironis. Apakah ini merupakan hukum alam ataukah mereka sudah tidak mempunyai lagi rasa bangga atas kesundaannya ? Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya ?

 

Sosok Jaya Perkasa bagi masyarakat Sumedang merupakan tokoh legenda dan mitos. Pada umumnya mereka tidak tahu siapa sebenarnya Jaya Perkasa, dari mana dan mengapa ada di Sumedang Larang. Mereka hanya tahu bahwa Jaya Perkasa adalah seorang patih dan tokoh sentral cerita babad Sumedang dalam perang dengan Cirebon yang kebenarannya sulit dipertanggungjawabkan. Dalam cerita babad Sumedang, perang itu terjadi dan dimenangkan oleh Sumedang. Tetapi dalam cerita babad Cirebon pun, memang perang itu terjadi dan dimenangkan oleh Cirebon. Cerita peperangan antara Sumedang dan Cirebon yang dilatarbelakangi oleh hubungan segitiga antara Geusan Ulun, Panembahan Ratu dan Ratu Harisbaya, aku kira para penulisnya dilandasi emosional yang tidak terkontrol. Sayang sekali cerita babad yang syarat akan sejarah namun endingnya controversial sehingga menyesatkan. Bahkan ada gossip yang beredar di masyarakat bahwa ketika Harisbaya diculik sedang mengandung, sehingga dianggap bahwa anak yang lahir adalah anak Panembahan Ratu. Namun bila dilihat dari sejarah, kemungkinan itu tidak ada, karena tidak mungkin manusia bisa mengandung lebih dari dua tahun. Peristiwa penculikan itu terjadi tahun 1585, sedangkan perkawinannya tahun 1587, jadi tertunda dua tahun.

 

Keberadaan Jaya Perkasa sebenarnya jauh lebih besar dari pada perannya dalam cerita badad Sumedang meskipun bercampur mitos. Beliau lah ‘king maker’ ketegangan Sumedang-Cirebon. Jaya Perkasa terpaksa berbuat seperti itu untuk mencari jalan guna menunjukkan bangkitnya kembali Pakuan yang telah diluluhlantakan oleh aliansi Demak, Cirebon dan Banten. Jaya Perkasa tahu persis bahwa menculik isteri orang adalah perbuatan yang nista. Hal ini dilakukan ada dua alasan yang amat mendasar, pertama untuk memancing kemarahan Panembahan Ratu, Jaya Perkasa ingin membalas keruntuhan Pakuan. Kedua, Jaya Perkasa mengetahui latar belakang sebenarnya mengenai percintaan Geusan Ulun dengan Harisbaya ketika mereka berada di Pajang. Sekenario besar ini gagal manakala Panembahan Ratu mengetahui motif sebenarnya dibalik penculikan Ratu Harisbaya.

 

Jaya Perkasa tidak rela eksistensi Pakuan hilang begitu saja, dengan sisa kekuatan yang ada, beliau berhasil mendirikan kembali kerajaan yang berdaulat penerus Pajajaran. Rencana dan upayanya telah dapat dilalui dengan mulus, namun rupanya Tuhan menentukan lain. Setelah beliau dan Geusan Ulun wafat, kerajaan Sumedang Larang tidak mampu berdiri tegak. Status kerajaan Sumedang Larang berakhir akibat invasi Sultan Agung dari Mataram. Sejak saat itu lenyaplah sudah status kerajaan penerus Pajajaran. Barangkali akibat pengalaman sejarah itu, setiap yang berziarah ke makam Jaya Perkasa tidak diperbolehkan mengenakan pakaian batik.

 

Sunda, sebuah negeri yang hilang. Budaya dan tatar Sunda tanpa negeri yang berdaulat. Betapa kecewanya Jaya Perkasa bila tahu akhir yang tragis di negeri ini.

 

Terbayang dalam benakku, perjuangan seluruh hidupnya hanya diperuntukkan untuk kejayaan dan harga diri Pasundan khususnya Pakuan Pajajaran. Cita-citanya yang amat luhur bagi Pasundan, kini sudah ditinggalkan dan dilupakan oleh orang Sunda sendiri. Budaya dan etika Sunda yang terbentuk melalui sejarah panjang selama lebih dari 1000 tahun kini hilang, walaupun terlihat hanya samar-samar.

 

Hal lain yang menambah keprihatinanku, ketika aku berjalan menuju dan kembali antara perkampungan dengan makam, sepanjang jalan dipenuhi oleh para peminta-minta dengan perilaku setengah memaksa. Aku kira mereka orang-orang yang tinggal di sekitar kampung itu.Ironis, sangat ironis, entah kata apa lagi yang lebih pantas. Di satu fihak tokoh yang dikultuskan karena perjuangannya untuk jati diri dan harga diri Pasundan sedang di fihak lain tidak mengerti dan tidak punya harga diri sama sekali. Sungguh memalukan. Ya Tuhan, mengapa jadinya seperti ini? Tata nilai yang telah dibangun hasilnya ibarat buih di lautan, sangat rentan dan mudah terombang ambing. Inilah kenyataan yang dialami masyarakat Sunda sekarang. Kebesaran dan kejayaan Sunda di masa lampau seolah-olah tidak berbekas.

 

Andaikan beliau masih ada, rasanya aku ingin memeluk erat-erat, aku sangat merindukan nilai-nilai kesundaan yang hakiki. Kerinduan ku hanya bisa kutumpahkan dengan bersimpuh di depan saksi bisu yang syarat akan sejarah di Tatar Sunda. Sungguh aku merasa teramat kecil di hadapan nya. Sebagai generasi penerus tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mempunyai kemampuan apalagi kekuatan untuk meneruskan cita-citanya. ‘Maafkan aku Eyang’ aku hanya bisa menyesali keadaan.

 

Sumedang, 9 Januari 2008

Agus Darmasutisna


Responses

  1. abdi mahteu sempet ngaosna mung ka tingalna mah anjen teh jalmi anu mire^es budaya sareng sasakala urang sunda, punten we bilih kirang atanapi nyanyahoanan

    • Kanggo Saderek Awie,
      Hatur nuhun kana perhatosannana. Leres pisan sakumaha nu ka uninga.

  2. Ass….. Mang agus
    Saya harap mang Agus tidak harus berputus asa, masih banyak penerus tatar sunda yang saat ini sedang menggembleng diri untuk meneruskan perjuangan karuhun… mugi-mugi gusti pangeran mengizinkan. tidak lama lagi mungkin dalam hitungan 2 tahun kedepan akan terlihat tanda2nya. yang terpenting kita harus ingat wangsit uga eyang prabu…. selama kita terus berzikir puji dina insya Allah….Gusti Pangeran ngijabah do’a kita……
    Teruskan perjuangan…. jangan menyerah “MERDEKA”.

    • Ya, mudah-mudahan do’a kita dikabul, Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Amien !!!

  3. Assalamu’alaikum kang agus…

    Abi ngiringan sedih ninggal ceritana kang agus..
    Tapi abi ninggal sisi baikna….ternyata di jaman anu teknologi serba canggih masih aya keneh jalmi anu ngahargaan kana sejarah luluhurna…alhamdulillah..
    Bangsa ieu teh teu bobrok2 teuing geningan…

    eh,hilap..nepangkeun..nami abdi sendy..abis asli urang sunda…kaleresan abi lahir dibandung, ibu rama oge asli bandung..
    abi bae ngadongeng sakedik ah….sharing pengalaman..(^_^)

    Dinu KTP, kartu keluarga, trus carita ti keluarga..abi teh urang bandung..tapi ternyata abi mendakan keterangan anu lain…emang secara dhohir abi teh lahir di bandung tapi nu ngalir sanes darah bandung asli….ternyata abi teh darah sumedang…(ieu pendapat ti jalmi nu ngarti kana masalah perghoiban..)nya abi teh teu percaya…ah maenya teuing kitu….
    singkat cerita abi langsung mendakan uwa ti bapa anu ngarti pisan kana sejarah kulawarga…
    Reuwas abi teh pas uwa nyarios emang bener di abi teh nu ngalir darah sumedang….(%$%$%^$)
    nyaeta ti eyang jaya perkasa….naha??
    ternyata nenek buyut ti bapa teh keturunan ti sabarahana ti eyang jaya perkasa…
    Alhamdulillahna abi diajakan mendakan deui aki ti gigir nu aya hubungan keneh kulawarga….
    tah ti aki eta abi mendakan carita anu leuwih kumplit deui….carita nu terkait na teh dugi ka Nyi Mas Centring Manik/Dewi Rengganis, Prabu Siliwangi
    Upami teu lepat nami kerajaan na teh Galuh Pakuan….Petilasan na mah moal aya di sumedang mah..kumargi tos kamakan kujaman.
    ngan hiji…aki teh masih keneh nyimpen keris anu dicepengan ku eyang jaya perkasa..diturunkeun turun temurun..generasi ka generasi…kudu na mah secara struktural generasi anu ayeuna nu nyepenga eta keris teh uwa…kumargi uwa sibuk jadi dititipkeun ka aki ti gigir…
    malahan mah keris eta ab oge tos ninggal…
    (niat abi sanes bae nu heunteu2) ngan abi nganuhunkeun pisan malahan aya keneh jalmi anu daek ngurus warisan turun temurun…
    sakitu tah caritana….upami dibeberkeun kabeh mah panjang teuing…
    ngan kesimpulan abi sigana mah kang agus sareng abdi teh aya “trah” ti luhur… walahualam

    Nb: Leres pisan anu disebatkeun kang aldi…perkawis aya penerus tatar sunda anu nuju ngagembleng diri….nu bade neruskeun perjuangan karuhun….

    Merdeka Indonesiaku……

    • Kangge Saderek Sandy, punten pisan abdi nembe ngawaleran. Maklum geuning abdi teh mani diudag-udag pisan ku waktos. Siganamah upami ningal kana keterangan Saderek Sandy, boa-boa urang teh aya patula-patalina. Sanaos urang teu acan kantos patepang, mugi wae ieu blog atanapi tulisan janten tali siturahmi.

  4. Alhamdulillah masih aya jalmi atanapi katurunan sumedang larang anu perhatosan kana sajarah sunda (Prabu Geusan Ulun sareng eyang Jaya Perkosa)Kaleureusan simkuring katurunan Sumedang Majelengka(Sumedangna ti Congeang nyaeta pun Rama putrana Aki Iding sareng Aki Ewos didesa Jambu,ari Majalengkana nyaeta pun Tipun Ibu
    Kecamataan Cikijing ds.Sunalari)Mangga urng sasarengan ngamumule karuhun urang kang Agus,mudah2han aya ridhoNa.amin

    Kahatur ti,
    Asep ramdan
    Phnom Penh,Kamboja

    • Hatur nuhun Kang Asep, punten yeuh abdi telat ngawaleran. Leres pisan mugi wae kenging ridho ti Mantenna.

  5. sampurasun…

    tepangkeun nami abdi hanivan. sok sanaos abdi sanes turunan asli sumedang, tapi abdi mikacinta sareung reues kana nu namina budaya, sejarah tatar sunda komo sumedang mah.

    ningal carita kang agus, memang abdi ngiring prihatin sareng sedih. naon nu dijanteunkeun ku para leluhur urang sadaya kanggo anak incu na, lambat laun mulai teu dipiara deui malahan mah sampey ka rusak jeung leungit.
    tapi masih aya keneh jigana mah urang sunda teh nu masih peduli ka paninggalan leluhur urang, ngan teu seuer sareng teu aya nu tiasa janteun pemeungkeut kanggo urang sunda , khususna nu reues kana paninggalan sunda.

    sembah hormat kanggo nu mikacinta tatarsunda

    kahatur,

    hanivan wijaya novera

    • Kangge Saderek Havian, punten pisan abdi nembe ngawaleran ayeuna. Hatur nuhun pisan kana perhatosan nana. Muhun kitu, nuju prihatin. Duka kumaha tah urang Sunda teh saterasna. Sakali deui hatur nuhun kana perhatosan nana, sareng hapunten nembe ngawaleran.

  6. please let me know, if you can get the information about Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja, Bandung.
    Please send me an email:lisma_wutzke@yahoo.com
    Thank you very much.
    bethsi

  7. Saya tambahkan disini bahwa RT Hasan Soemadipradja adalah mantan bupati bandung pada thn.1931-1935, dan beliau meletakkan batu pertama pada mesjid Cibaganthi Bandung.
    Saya mohon dengan hormat, siapapun yg bisa memberikan informasi paling tidak beliau dimakamkan dimana.
    thanks

    • Sebelum diangkat jadi bupati Bandung Raden Tumenggung Hasan Sumadipraja pernah diangkat jadi patih Karawang menggantikan Patih Madiadipura pada tahun 1924. Peristiwa ini bisa dilihat di Sejarah Purwakarta, kalau tidak salah pada halaman 53.
      Beliau mungkin dimakamkan di Makam Para Bupati Bandung yang beralamat di Karanganyar, Bandung.
      Maaf saya tidak punya list nama-nama bupati Bandung yang dimakamkan di Karanganyar.

  8. alhamdulilah…dulur sadaya masih mirosea kana paninggalan tur lampah karuhun urang tatar pasundan..,sim kuring fauzi orang subang bade medar lalakon ngenaan jaya perkasa nu kaalaman..dina hiji wktu kuring ditugaskeun jauh ti lembur..tugas diperbatasan nagri urang tepatnamah di p.sebatik ambalat..ngajaga bilih aya bancang pakewu diperbatasan..kuring tinggal di hiji pos nu anggotana 20 urang,disagigireun pos teh aya rumah panggung jaman baheula,.nya ete rumahteh ku kuring dijadikeun musola sakalian kuring oge sare unggal poena di eta musola..gancangna waktu da kusabab tempat sare ngahiji jeung musola tiap peuting sok hudang tumeukung kanu agung menta ditangtayungan salami ngajalankeun tugas..hiji peutingmah meunang karewas keur anteung tumeukung aya sora uluk salam bari jeung teu apal eta sora eta teh da pasti lain sora anggota kuring..gancang wae diwaleur.,,wlaikum salam..mangga kaleubeut ceuk kuring..ngan leuwih rewas deui nu datang teh jalmi jangkung badag bari pakaiana jaman jawara baheula..nyakuring teh ngaleuleur-leuleur maneh supaya tenang..trus naros??punteun sareung saha??anjeuna nembalan,.upami anjeun masih nganggap dulur mun aya waktu pendakan kula di dayeuh luhur…ditembal kusim kuring.nya milari saha ke kuring di dayeuh luhur??anjeuna nembal jaya perkasa tuluy indit miang kaluar deui..gancang ku kuring di udag geus teu katingali deui…tos lami kajadian eta peuting kuring masih tugas dieta pulau..anjeuna dongkap deui dina hiji peuting sami sasaurana kitu keneh…jadi panasaran jeung hoyong terang saha ari jaya perkasa teh..??tugas tos rengse kuring mulang kasubang bebeja ka aki tur kaseupuh sejena..anjeuna reuwas ngupingna tuluy nitah kuring gancang-gancang kadayeuh luhur..bral wae kuring miang 6 urang ti subang ka dayeuh luhur.dugi di dayeuh luhur jam 12 peuting dianteur ku juru kunci bari nyebatkeun pamaksudanana..barang naek kaluhur mapay -mapay anak tangga nu 5rerencangan teu kiateun naek sukuna beurat pisan diangkatna tungtungna ngan kuring jeung juru kunci nu kaluhur…hate leuleus ngaleukeuteuy barang ningali padumukan nu dijeulaskeun ku juru kunci..ngan tunggul nu jadi buktina..geuningan kuring teh diuleum kunu teu aya wujdna??naha kamana ari jaya perkasana dina hate..kuring nyumponan panguleumanana jauh dijugjug anggang diteang,lain tumorojog tanpa laratan??trus wae kuring hadiahan kirim doa kasadayana beres kabeh aya nu uluk salam..kuring apal pisan sorana moal bireuk deui sarua jeung sora anu uluk salam waktu kuring di tempat panugasan..gancang wae dijawab walaikum salam..anjena nembal.”nuhun putu tos dongkap bagja teuing eyang dina peuting ieu nitip susun darajat anu nyata buktikeun trah pajajaran oge mumpuni sanggup ngolah nagri”..tambah ngaleukeuteuy weh hate teh nguping eta sora siga nubeurat jeung kanyeunyeurian..kuring teupuguh-puguh ceurik sesegukan…nyakudu kumaha pilampaheuna ke kahareup??trus wae kuring turun tiluhur sareung juru kunci..trus bral wae kuring mulang ka subang jam 3an isuk…….kitu dulur pangalaman kuring teh ..nu sateacanamah kuring sadar,ngan terang sajarahna teh ti guru bahasa daerah wktu kuring SD..ditalungtik kukuring ayeuna nya beneur geuning urang sunda ngan ukur lalajo di ieu nagri..hayu dulur kuring ngajak nya saha wae ke kahareup susuganan trah pajajaran ge bisa mimpin nagri ulah daek diparentah ku batur wae buktikeun urang sunda ge bisa..pan geus dicontoan dina perang bubat ku karuhun urang mening perlaya dimedan laga daripada hirup kudu tunduk kanagri batur…

  9. Asalamu alaikum. Kang Agus punten abdi bade tumaros. Sateuacana abdi bade ngadugikeun anu aya dina badan abdi. Abdi teh asli ti ganeas, ari bapa ti cibogo, pun bapa namina Manta ari aki Karta ari uyut mun teu salah Umsa. Ari cibogo teh ayana teu tebih ti dayeuh luhur. Ayeuna dina badan abdi aya nu ngancik, anjeuna ngaku Kibuyut Tapa, anjeuna teh ti pajajaran tapi ayana di Sumedang larang. Anjeuna hoyong ngahiji sareng raga abdi. Abdi teh tos naros ka 3 jalmi anu terang goib. 1, urang betawi ningal keris aya di raga abdi. 2, urang cirebon ningal macan tutul aya dina raga abdi, ngakuna ti pajajaran. 3 urang banjar,anjena ningal jalmi ngangge pakean jaman pajajaran. Kumargi panasaran ku anjeuna di ondang nyurup ka anjeuna. Terang ti dinya namina Kibuyut Tapa. asal ti pajajaran nu aya di Sumedang.
    Pertarosana saha Kibuyut Tapa teh. Abdi gaduh ua namina Sumarta, anjeuna gaduh keris pusaka. Mung ti saprak ua pupus eta keris teh leungit mung tinggal sarangkana. Naha aya hubungan keris nu leungit sareng nu aya di raga abdi. Saur sepuh abdi gaduh tanda dina kuku sampean yen abdi teh aya katurunan ti Pajajaran. Hatur nuhun. Wasalam Uyu Wahyu.

  10. Asalamu alaikum. Kang Agus punten aya anu kaliwat, Abdi ti aalit tos resep kana carita anu aya hubungan sareng pajajaran, sumedang larang. Malah abdi upami nuju amarah sok tara sadar ngucapkeun punten Kang Agus “yeuh aing sekeseler prabu siliwangi” eta teh ti aalit. sareng seueur kajantenan anu araneh. Hatur nuhun. Wasalam Uyu Wahyu.

    • Assalamu alaikum,
      Hatur nuhun kana perhatosan Ayi Uyu Wahyu, namung sateuacana Kang Agus nyuhungkeun dihapunten bilih lepat nyarios.
      Ampir sadayana nu didugikeun Ayi Uyu masalah anu caket kana gaib. Kaleresan Kang Agus kana gaib mah kirang apal. Perkawis Kibuyut Tapa siganamah memang aya hubungan nana sareng Pakuan Pajajaran. Margi waktos Pakuan Pajajaran dugi kana ahir riwayatna, pangagung nagri di Pakuan dipimpin ku 4 Kandaga Lante hartosna Panglima atanapi Senapati Agung (Sagiang Hawu alias Jaya Perkasa, Batara Adipati Wiradijaya alias Embah Nangenan, Sagiang Kondang Hapa, Batara Pancar Buana alias Embah Terong Peot) hijrah ka Sumedang Larang, maksadna bade ngdegkeun deui nagri anyar gaganti Pakuan Pajajaran anu tos runtag. Upami dicarioskeun mah panjang teuing, nah ayeuna urang langsung kana masalah. Memang pangagung atanapi prajurit Pajajaran anu nyesa ayana di Sumedang. Aya oge anu hijrah ka tempat anu sanes, nyaeta ka Pasir Pulasari wilayah Pandeglang ayeuna, tapi sadayana ditumpurludeskeun ku Pamenbahan Yusuf ti Banten alatan honyong ngawarisan Pajajaran. Jadi memang kahartos urang Sumedang turunan Pajajaran, seperti anu diakukeun ku Kibuyut Tapa. Ngan hanjakal kabiasaan urang Pakuan Pajajaran mah tara ngangge namina anu asli tapi sok ngangge nami samanaran atanapi ngangge nami julukan persis seperti Kibuyut Tapa. Perkawis saha Kibuyut Tapa, memang rada hese dipaluruhna margi etamah sanes nami asli. Namung upami ningali ciri nami eta, Kibuyut Tapa teh asalna urang Pakuan Pajajaran atanapi turunan ti Pakuan Pajajaran.
      Wassalam
      Agus Darmasutisna

  11. waas

  12. punteun…kasepuh,lanceuk.adi,sareung kadulur..kuring badi ngarewong kana ieu riungan..kahiji aya kurasa bangga masih tiasa pendak sareung dulur2 anu masih mirosea kanu sajarah sunda..kuring budak subang anu sami poekeun obor kana sajarah kolot..nuhun pisan ka pun lanceuk dipayun anu tos medarkeun carita atawa sajarah kolot urang anu ti babaraha versi keun ari didalagormah sangkan kapanggih nyukcruk galur lampah kolot baheula,,saemut kuring mah da alam teh bakal balik deu balik deui eta deui eta deui caritana. sugan dina hiji mangsa pajajaran bakal nangtung deui leuwih rongkah leuwih geude kakawasaana..(lain aya deui nagara pajajaran tapi ieu nagara teh dirajaan ku trah na pajajaran anu bakal mawa rahyatna gemah ripah loh jinawi amiin..)kanggo ka dulur sarerea kuring gaduh pangalaman nu nyata perkawis jaya perkasa..ke ku kuring bakal di pedar supados akang,lanceuk,pun adi sareung dulur tiasa masihan tuntunan,pandangan kedah kumaha…

  13. Hi akhir2 ini saya sedang mencari tentang leluhur saya di google. Yang saya tau kakek saya bernama alm. Oedeng T. Madiadipoera. Tidak banyak yg saya ketahui tentang uyut saya, but at least saya dapatkan nama T. Madiadipura di website anda. Thanks. Salam kenal dari Wisconsin.

  14. alhamdulillah saya bisa ketemu saudara saya, saya akan menceritakan apa yang yang saya alami setelah saampai saat ini.
    kalau berbicara dengan orang yang mungkin tidak punya latar belakang kasundaan dan karuhun yakin apayang saya ceritakan ini hanya akan dianggap bohong, namun apa yang saya alami ini kenyataan dan real serta terjadi setiap saat.
    saudaraku, saya termassuk orang yang seang dengan ccarita karuhun, dan alhamdulillah masih menjalankan wirid setiap malam, sampai suatu hari , pada usia masih 33 tahun saya menjalankan niat saya untuk melakukan puasa 41 hari sebagaimana niatan saya yang sudah lama saya idam-iudamkan. banyak sekali kejadian yang saya alami selama menjalankan puasa, menjelang hari ke 41 hari malamnya saya didatangi ssesorang yang merupakan penjelmaan dari diri saya pribadi, menanyakan ” HAYANG NAON ATUH MENI TAPA JAMAN KIWARI” saya menjawab ” TEU HOYONG NANAON, NGAN SIEUN TEU BISA MULIH NGAJATI MULANG KA ASAL ” tapi terus dia bicara ” HEUG ARI KITU MAH, NGAN WAYAHNA KUDU DAEK SILA IPIS” saya menjawab ” MAKSADNA KUMAHA ” terus terjadi komunikasi ” MAKSUDNA ANJEUN KUDU JADI PANANYAAN, JEUNG KUDU JADI TUNGGUL SUNDA KA KOLOTNAKEUN” saya menjawab “ABDI TEU SANGGEM KUMARGI MASIH KENEH NGORA RESEP KENEH ULIN, ENGKE WE TOS KOLOT” jawabnya ” HEUG” terus menghilang.
    lama berselang, wirid masih saya lakukan, saya kembali melakukan puasa 40 hari, dan sama banyak kejadian yang saya alami namun lebih banyak memberikan wejangan dan cerita tentang Tatar sunda dan Laut Kidul.
    Pas Usia saya 40 tahun, saya merayakan Ulang tahun secara sederhana, namun tanpa saya saya sadari ternyata di hadiri oleh seluruh karuhun sunda dan Laut Kidul.
    ulang tahun secara faktual hanya dihadiri oleh 5 orang dari keluarga dan temen wirid saja. namun ternyata di hadiri banyak sekali. Ibu saya yang tekah wafat pada usia saya 34 tahun turut hadir yang mengenalkan saya pada semua yang hadir. Pada saat itu saya di kenalkan pada semua, dan yang hadir adalah :
    Kangjeng Prabu Siliwangi, Eyang Jaya Perkasa, Eyang Ratu (garwa Eyang Jaya Perkasa), Eyang Ranca Kalong, Eyang Alit, Kangjeng Ratu Nyi Mas Nyi Rorok KIdul, Kangjeng Ratu Nyi Mas Ratna, dan banyak karuhun lain yang tidak disebutkan.
    saya sangat bangga, karena semua menyebut saya INCU,
    sejak saat itu, kehidupan saya banyak dikelilingi karuhun sunda, terutama EYANG JAYA PERKASA yang menjadi Guru saya, dan selalu mengajarkan, apa yang harus saya wirid, cara bertingkahlaku, cara mengobati orang, secra banyak sekali sampai bagaimana cara Ngamumule kasundaan dan bimbingan Ibadah kepada ALlah.
    sejak saat itu, banyak sekali perubahan yang terjadi, dan EYANG JAYA PERKASA DAN IBUKU, setiap malam selalu menemaniku melaksanakan wiridan.
    waktu berjalan terus, saya ditugaskan oleh Eyang untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yang di Kuningan, Cirebon dan Garut. saya pun ke sana dan benar, saya menemukan saudara Eyang, di Kuningan ” EYANG SYEH, EMBAH IBONG,
    sampai saat ini saya setiap hari selalu NGOBROL dengan EYANG JAYA PERKASA, dan selalu membimbing saya. Bahkan saat ini, setiap malam Selasa, malam Jumat dan malam Minggu rumah saya dijadikan tempat pertemuan karuhun SUnda, yang dihadiri oleh Kangjeng Prabu Siliwangi, Eyang Jaya Perkasa, eyang Ranca Kalong, Eyang Alit, Eyang Syeh, juga dihadiri oleh sesepuh Sumedang, antara lain EYang Santri, Kangjeng Prabu Geusan Ulun, Eyang Terong Peot, dan banyak karuhun sumedang yang saya ga tahu namanya.
    melalui surat ini saya sangat senang, karena kalau benar saya berarti bertemu dengan saudara saya dan sama-sama yang ditugaskan untuk menjaga karuhun sunda,
    semoga ini menjadi pengikat tali silatuahmi kita
    No, Telepon saya: 081572967344 / 022 75199774

    • punten akang deden
      saya diky dan yg akang deden ceritakan itu apakah benar prabu siliwang pernah mengunjungin akang?
      karena yg saya tau yg namanya prabu siliwangi itu hanya lah sebuah julukan, dan yg punya julukan ini kalo gak salah hanya 6 orang, dan saya pernah sekali berbicara dengan eyang jaya perkasa lewat mediator, dan apakah bisa saya berbicara dgn beliau secara langsung ?
      nuhun pisan kang

  15. muhun pisan…..anu dicarioskeun urang sunda tos mopohokeun kana kasundaanana….tapi insyallah dina dinten enjing kaping 28 november 2010 di pesantren pasim Al-Fath baris di Resmikeun Museum Sejarah Sunda Islamisasi Prabu Siliwangi….insaallah janten Cukang lantaran urang sunda inget kana jatidirina anu sabenerna……

  16. ass…. kang agus,…. abdi vivi ti bandung. siganamah ampir sadaya katurunan eyang jaya perkasa leungiteun obor,…….
    lantaran abdi ge nembe terang 3 bulan ka pengker yen abdi turunan sumedang. pedah abdi tabrakan…..
    mung kedah kitu meureun kersaning Allah, sadaya nu di suhunkeun tulung ninggal yen di diri abdi teu nyalira tapi di aping ku karuhun, ………lantaran lamun jalmi anu biasa teuantaparah deui bakal tilar dunya, pun bapa nembe nyarios yen di dirina nnya ngalir darah eyang jaya perkasa….. mung nu abdi teu ngartos naha bet di turuban aya turunan timanateh……
    malah abdi teu acan pisan nyukcruk jalur ka benang beureum karuhun nu aaya di diri abdi. kang salam sejahtera ti abdi vivi,..

  17. sami kang..hayu urang sami” jaga sreng lestarikeun budaya buhun sunda upmi tiasa kontek abdi no hp 081322834960 bilih hoyong ngobrol sreng uyut jaya perkasa tapi via mediator

  18. Jaya Perkasa nu ceunah urang pajajaran, nya sabenerna Indung Bapana Batara Kusumah asli sumedang makamna oge tangtos di sumedang!
    Jaya Perkasa nu ceunah panungtungan tilem di Dayeuh pada ngajugjug ceunah ningalkeun deui tapak di Cipancar katelah Embah Buyut Tadjur pada tarapa. saetik nu apal makamna aya Di nangorak tara di aprak.
    Ngecap Pajajaran di sumedang sarua ngecap Nusantara di Indonesia
    Ngecap Silihwangi urang pajajaran sarua jeng ngecap tahu asalna sumedang.
    tapi keun lumrah ari ngaran merk riwyat

  19. Asalamualaekum
    sampurasun
    eh geuning nu coment teh DUKUN mngkul nya,
    (Duduk Bari Tekun) hehehe
    sae atuh kang ari di sebat incu ku para RijalulGhoib
    Tapi eleh keneh ku kabanggan simkuring nu disebat ANAK ku
    Indung nu ciduhna matak metu
    Bapa nu rehakna matak teurak
    salam silaturahmi dulur sadaya
    Mulus Rahayu Barokah Salamet
    wasalam

  20. Mg gusti ,maparin rahmat k lluhur abd ,khusus n k eyng jy perkasa,,sreng nmpat ken mntena dina tmpt nu pling sae…
    Abd snes urng sumedang,tp mika cinta k jlmi nu ngabela khormatan sasama,khusus na sunda,,
    abd mika kagum k ssok mantena,kumargi mantena t pjjran,sdng kn abd kwitna ti cianjur,,pnginten tos d anggap lluhur abd…
    Htur nhun kanu prantos ngadamel artikel di luhur..

  21. Asslmlkum…
    Htur nhun knu prantos ngadamel artikel d luhur.. Pnginten sosok eta th msih kneh lluhur abd ,kmargi mntena kwitna ti pjjaran…hayu urng nglestariken budaya sunda ,skumaha lampah laku marantena ..
    Sreng urang kdah sring ngiriman do’a k marantena ,kucara n twasulan atanapi sjabana kayakinan urang… Allohu akbar..

    • Ka Saderek Purabaya, “Sami-sami, sim kuring oge ngahaturkeun nuhun kana perhatosan nana.”

  22. geningan aya keneh dulur sakaruhun nu msh keneh merhatoskeus ka eyang jaya perkasa …
    salam dulur dmn wae anjeun ayeuna …
    abdi ge nembe terang yen abdi turunanan lgsg ti kersa eyang jaya perkasa teh bubuhan aya pengakuan lgsg ti jurig nu nyurup karerencangan abdi nu harita kasurupan ,mang agus

    • Hatur nuhun ka Saderek Robby, yu urang mumule titinggal karuhun urang sadayana.

  23. nepangkeun abdi cikon furqon linggih di cililin kabupaten bandung barat bade tumaros kasadayana we! dan pun Aki teh asli ti bogor aya keneh katurunan ti eyang jaya perkasa!
    upami eyang jaya perkasa keturunan timana asal darimana ?

    • Hatur nuhun kana perhatosan saderek Cikon Furkon. Perkawis Embah Jaya Perkasa asal ti Pakuan Pajajaran anjeunna Panglima Pamungkas di Pakuan anu katitipan Karaton Pakuan ku Ratu Nilakendra. Katerangan salengkepna, abdi parantos nulis perkawis saha saleresna Jaya Perkasa, ti mana asalna sareng naon maksadna aya di Sumedang Larang. Insya Allah engke ku abdi dimuat di blog Caritakuring.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: